Tanggal Posting

October 2012
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Aktifitas


Khutbah Idul Adha

1. Khutbah Idul Adha 1433 H Majelis Mujahidin Indonesia:

Militansi Generasi Tauhid

oleh: Irfan S Awwas

اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ، الْعَزِيْزِ الْغَفَّارِ، مُكَوِّرِ اللَّيْلِ
عَلَى النَّهَارِ، تَذْكِرَةً لأُوْلِي الْقُلُوْبِ وَالأَبْصَارِ ،
وَتَبْصِرَةً لِذَوِىْ الأَلْبَابِ وَالاِعْتِبَارِ ‏‏‏.‏ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ الْبَرُّ الْكَرِيْمُ، الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَحَبِيْبُهُ
وَخَلِيْلُهُ، الْهَادِىْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ، وَالدَّاعِيْ إِلَى دِيْنٍ
قَوِيْمٍ‏.‏ صَلَوَاْتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى سَائِرِ النَّبِيِّيْنَ،
وَآلِ كُلٍّ، وَسَائِرِ الصَّالِحِيْنَ‏.‏ أما بعد‏: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا
اتَّقُوا اللهَ
وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
[الأحزاب 70 -71]

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر ،
الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد

Patutlah kita bersyukur kepada Allah Swt, yang telah menunjukkan jalan Islam kepada kita, dan menurunkan syari’at-Nya sebagai rahmatan lil alamin. Sebagai agama dan jalan hidup, Islam merupakan pilihan terbaik yang telah dirintis para Nabi dan Rasul-Nya, dan diikuti oleh manusia yang mendapat karunia Ilahy.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan Allah kepada Muhammad Rasulullah Saw., manusia pilihan yang menjadi juru bicara Ilahiy untuk menjelaskan kehendak Allah; tentang bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupannya di dunia secara benar dan berfaedah, sehingga memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Sesungguhnya Rasulullah Saw telah membimbing kita dan memberi petunjuk untuk kemaslahatan hidup kita di dunia dan akhirat. Karena itu, kita ridha menjadikan Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul-Nya. Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang berhak mendapatkan kenikmatan. Karena itu, marilah kita meningkatkan taqwa dan berkata jujur, sebagaimana seruan Allah:

“Wahai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan bertauhidlah, dan berkatalah dengan perkataan yang benar, niscaya semua yang kalian lakukan hasilnya akan menjadi baik dan dosa-dosa kalian akan diampuni Allah. Dan siapa saja yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia memperoleh kemenangan yang sangat besar.“ (Qs. Al-Ahzab, 33:70-71)

Pendidikan Keshalihan

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله
أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد

Pada hari yang penuh barakah ini, tanggal 10 Dzulhijjah 1433 H bertepatan dengan 26 Oktober 2012 M, berjuta-juta kaum Muslimin dari segala penjuru dunia terhampar di padang ‘Arafah, menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang ke lima. Lebih dari dua juta hamba Allah mengalir syahdu menggemakan takbir dan tahmid, memuji kebesaran Allah, berziarah menuju tempat-tempat suci dan bersejarah seraya mengenang history abadi halilullah, kekasih Allah, Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail As.

Inilah hari besar keimanan dan kemanusiaan, yang ditandai dengan syiar penyembelihan hewan qurban, untuk mengenang peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim setelah beliau menerima wahyu llahy melalui mimpi, yang memerintahkan supaya beliau menyembelih puteranya Ismail. Padahal, sebelum Ismail lahir, Nabi Ibrahim As selalu berdo’a  agar mendapat keturunan yang shalih:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (الصافات 100)

Ibrahim berdo’a: “Wahai Tuhanku, karuniakanlah anak yang shalih kepadaku.” (Qs. As-Shaffat, 37:100)

Siapa mengira, setelah Ismail As meningkat dewasa, usia 13 tahun, Allah Swt memerintahkan pada Ibrahim As melalui mimpi supaya menyembelih anaknya, sebagaimana terekam dalam dialog Ilahiyah di bawah ini:

Tatkala anak itu sudah dewasa, Ibrahim berkata kepada anaknya: “Wahai anakku tersayang, sungguh aku telah bermimpi menyembelih kamu. Karena itu apa pendapatmu tentang mimpiku itu…” (QS 37:102).

Seorang ayah yang sudah berusia 86 tahun, yang sedang mencurahkan kerinduan hatinya, dan harapan pun tertumpah pada kader muda penerus risalahnya, sekaligus putera beliau yang sedang menanjak dewasa. Dalam keadaan demikian, datanglah perintah Allah untuk menyembelih putera kesayangan dan satu-satunya itu. Sungguh ujian keimanan dan kemanusiaan yang amat sukar dan berat dilaksanakan.

Ibrahim As, bapak para Nabi itu sadar, ternyata Allah Yang Maha Rahman sedang menguji keimanannya. Apakah rasa sayang dan kecintaan kepada putera lelakinya, menghalanginya untuk mentaati perintah Allah? Nabi Ibrahim, akhirnya lulus melewati ujian Ilahy. Tekadnya bulat, tidak ada kebimbangan ataupun keraguan, perintah Allah wajib dijalankan apapun resiko serta pengorbanan yang mesti diberikan.

Dan respons Ismail As atas pertanyaan ayahnya sungguh meilitan; teguh dalam keimanan, khusyuk beribadah, dan mulia dalam akhlaq. Sikap yang hanya muncul dari anak yang shalih putera dari bapak yang shalih. Allah berfirman:

Ismail menjawab: “Wahai ayahanda tersayang,lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang yang sabar.” ( QS 37:102 )

Keikhlasan dan kepasrahan Nabi Ibrahim dalam meninggikan kalimat Allah sekalipun dengan mengorbankan harta, jiwa, bahkan putera kesayangannya sendiri. Dan kesetiaan Ismail untuk mentaati ayahandanya dalam rangka melaksanakan Syari’at Allah, walau harus menyerahkan nyawanya sendiri, terpancar melalui pernyataan spektakuler dan luar biasa:

“Ketika Ibrahim dan Ismail telah pasrah kepada Allah dan Ibrahim pun membaringkan puteranya, maka Kami berseru kepadanya, “Wahai ibrahim, kamu telah membenarkan mimpimu. Sungguh Kami akan memberi pahala kepada orang-orang yang beramal shalih.

Wahai Ibrahim,  kamu telah membenarkan mimpimu. Sungguh Kami akan memberi pahala kepada orang-orang yang beramal shalih.” Sungguh perintah Allah kepada Ibrahim itu merupakan satu ujian keimanan yang sangat jelas. Kami ganti Ismail dengan seekor domba yang sangat besar. Kami telah jadikan Ibrahim sebagai contoh bagi generasi-generasi sesudahnya. Ucapan salam sejahtera bagi Ibrahim. Demikianlah Kami memberi pahala kepada orang-orang yang beramal shalih. Sungguh Ibrahim termasuk hamba Kami yang benar-benar beriman.” (Qs. Ash-Shaffat, 37:104-111)

Peristiwa bersejarah ini memberi pelajaran bagi setiap Muslim, bahwa anak yang shalih dan shalihah hanya dapat lahir dari keturunan dan lingkungan keluarga yang shalih juga, sekalipun selalu ada pengecualian. Laksana pepatah, “daun jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.” Nabi Ibrahim As namanya diabadikan dalam al-Quran sebanyak 61 kali. Demikian pula julukan yang diberikan Allah padanya bermacam-macam selaras dengan prestasi yang pernah diukirnya di pentas sejarah. Allah Swt memberi gelar kemuliaan sebagai abul anbiya’ (bapak para nabi) karena dari beliau telah lahir keturunan para nabi dan orang-orang shalih. Sebagaimana yang ditulis Imam Ali As-shabuni dalam kitab annubuwwah wal anbiya’, beliau juga disebut ulul ‘azmi (orang yang sabar dan teguh pendirian), dan khalilur rahman (kekasih Allah yang maha pengasih).

Di zaman kita sekarang, hanya sedikit orang-orang sukses yang melahirkan orang yang sukses pula. Keshalihan Ismail, bukan diperoleh dari bangku kuliah di universitas, bukan pula celupan dari adat istiadat serta budaya masyarakatnya; melainkan karena ketaatannya pada ajaran agama. Maka peristiwa ini mengajarkan bagaimana menjadi hamba Allah yang taat dan patuh melalui pengamalan Syari’at-Nya. Menjalankan perintah Allah dengan penuh keikhlasan, sehingga siap berkorban harta bahkan nyawa, itulah totalitas kepasrahan Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail As.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر ،
الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد

Kronologi sejarah Idul Qurban ini merupakan peristiwa agung yang memantul dari keteguhan iman, kerendahan hati, dan tawakal sepenuhnya kepada Allah Rabbul Alamin. Dan balasan Allah Swt atas ketaatan mereka berdua sungguh menjadi dambaan setiap orang beriman. Mereka dianugerahi kekuatan menundukkan hawa nafsunya demi mematuhi perintah Allah. Selain itu, mereka berdua mendapatkan pujian dan keridhaan Allah, mengangkat derajatnya serta memberikan syafaat bagi keturunan yang mewarisi pola hidup tauhid yang beliau dakwahkan.

Sekiranya dalam melaksanakan Syari’at Allah, umat Islam dewasa ini meniru kepatuhan dan kepasrahan seperti yang dicontohkan Ibrahim dan Ismail As, pasti mereka akan dianugerahi kemenangan menghadapi musuh-musuhnya, ditinggikan derajat dan dinampakkan kemuliaan di hadapan lawan-lawannya.

Bandingkan dengan generasi muda di negeri kita sekarang. Kita menyaksikan, rakyat Indonesia bagai berada di tepi jurang pada malam gelap gulita, sehingga sulit membedakan yang ini halal dan yang itu haram. Betapa banyaknya orang yang antipati terhadap ajaran agama, lalu menyeru kepada ideologi sekuler, liberal sehingga menjerumuskan negeri ini ke arang jurang kebinasaan.

Di zaman orde lama, atas nama demokrasi, negeri kita dibawa ke arah komunisme yang melahirkan odeologi nasakom. Di zaman orde baru, Indonesia terjerumus pada belitan kapitalisme yang melestarikan korupsi dan KKN. Dan di zaman reformasi sekarang, Indonesia menghamba pada liberalisme, yang memosisikan agama dan umat beragama sebagai sumber masalah sosial dan moral.

Akibat dari semua ini adalah munculnya generasi yang rusak dan merusak sebagaimana firman Allah Qs. Maryam, 19:59-60:

“Sepeninggal para nabi, datanglah generasi baru yang mengabaikan shalat dan mengikuti hawa nafsu. Karena itu mereka pasti menemui kebinasaan, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih. Mereka akan diberi pahala surga. Mereka tidak sedikit pun diperla­kukan secara zhalim.”

Menurut Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat M Masri Muadz, hasil survai yang dilakukan di 33 provinsi tahun 2008. Bahwa sebanyak 63 persen remaja mengaku sudah mengalami hubungan seks sebelum nikah,”

Data Departemen Kesehatan hingga September 2008, dari 15.210 penderita AIDS atau orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Indonesia, 54 persen di antaranya adalah remaja. Belum lagi masalah tawuran di kalangan remaja, merajalelanya narkoba, sungguh malapetaka yang luar biasa.

Negeri kita sedang menantikan fajar menyingsing, sambil mencari-cari harapan yang akan dapat membimbing ke jalan hidayah, mencari-cari pancaran cahaya yang akan melenyapkan gumpalan awan gelap yang kian menebal. Namun sejarah membuktikan, manusia tidak pernah mampu menciptakan aturan atau tatanan hukum yang bersifat universal dan komprehensif untuk memandu serta mengatur prilaku sosial dan kenegaraan mereka.

Adalah penting bagi mereka yang memiliki keutamaan ilmu dan keshalihan dari kalangan ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, para cendekiawan agar berani mengoreksi berbagai kemungkaran dan kerusakan, baik yang dilakukan rakyat maupun penguasa. Kewajiban semua pihak untuk menyelamatkan generasi muda bangsa ini dari kerusakan moral dan bencana sosial, dengan menghidupkan kesadaran beragama dalam jiwa dan mental mereka. Mencegah kemungkaran demi perbaikan masyarakat dan negara, sehingga terhindar dari kehancuran yang lebih parah, menjadi pertanyaan prinsipil di dalam Al-Qur’an:

”Mengapa para pemuka agama bangsa-bangsa sebelum kalian, tidak mau mencegah kemungkaran di negerinya setelah nabinya meninggal, kecuali hanya sedikit orang saja? Orang-orang itu Kami selamatkan dari adzab yang menimpa kaumnya yang zhalim. Orang-orang zhalim selalu mengejar kemewahan dan kesenangan dunia. Mereka itu adalah orang-orang yang suka berbuat dosa.” (Qs. Huud, 11:116)

Sebagai Muslim, kita yakin dan percaya bahwa Islam merupakan rahmat terbesar yang diturunkan Allah untuk mengatur kehidupan manusia. Islam memiliki segala kkebaikan yang dihajatkan umat manusia. Wahyu dan syari’at yang diturunkan-Nya menjelaskan kepada manusia menyangkut berbagai persoalan hidup dan mati. Allah Swt mengajarkan, jika manusia menjalani kehidupan berdasarkan petunjuk Allah, maka ia akan bahagia. Dan mengikuti petunjuk Allah berarti menjalani kehidupan ini sebagai hamba Allah, menyembah-Nya sesuai dengan yang diperintahkan-Nya serta melaksanakan tugas memakmurkan bumi dan menegakkan keadilan bagi semua.

Seperti dikatakan HOS Cokroaminoto dalam orasi politiknya menyambut Kongres Nasional pertama SI di Bandung, 17-24 Juni 1916. Pimpinan SI itu menujukan ucapannya pada kaum sekuler dan penjajah kolonial dengan mengatakan: “Tuan-tuan akan mengatur Negara ini dengan kapitalisme, sosialisme, komunisme, dan dengan demokrasi, itu urusan tuan-tuan. Kami umat Islam akan mengatur Negara ini dengan Rahmanisme”.

Dalam konsep kenegaraan, Rahmanisme merupakan paham yang hendak menumbuhkan kesejahteraan rakyat berbasis syari’at Islam. Seperti dikatakan oleh Profesor A. Kahar Muzakkir, inilah konsep “Baldatun Thoyyibah, wa Rabbun Ghafur.” Yaitu negara yang aman sentosa dan diampuni Allah Swt.

Manakala kehidupan beragama melemah, mereka akan menjadi sasaran pertumpahan darah, sasaran rasialisme, kehormatan dan kekayaan mereka akan menjadi barang jarahan musuhnya. Seperti ungkapan seorang shalih, “Ketika agama dimuliakan di atas harta dunia, maka Allah Swt akan membuat dunia hina baginya. Dan ketika kita menyembah harta dunia, maka agama akan hilang dari lubuk hati dan para pencari dunia pasti akan mengalahkan kita.”

Oleh karena itu, para orang tua hendaknya mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah ini, mencontoh keikhlasan Nabi Ibrahim dan kesabaran Nabi Ismail. Orang tua yang tidak shalih dan dangkal pengetahuan agamanya, hendaknya bertekad memperbaiki keturunannya dan meningkatkan kualitas generasinya dengan mendidik serta membimbing anak-anak dan generasi muda kita agar memiliki kualifikasi basthatam fil ilmi wal jismi, luas ilmunya dan kuat fisiknya serta mulia akhlaknya.

MUNAJAT

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله
أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد

Kini, saat kita bersimpuh di haribaan Ilahy, marilah kita muhasabah, meluruskan aqidah dan memperbaiki akhlak, sekaligus koreksi total atas dosa serta kesalahan pemahaman dan pengamalan Islam kita. Di hari yang penuh barakah ini, wahai kaum Muslimin, marilah kita buktikan bahwa Umat Nabi Muhammad Saw. belum mati di negeri ini, dengan menegakkan Qur’an dan Sunnah beliau dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan Negara, sembari kita bermunajat kepada Allah Azza wajalla:

اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ
الدَّعْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى
هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا
وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ
زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ
شرٍّ

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اَللَّهُمَّ
اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ
وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ
بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا
وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا
وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى
دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا
وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

*

Khutbah Idul Adha 1433 H Militansi Generasi Tauhid oleh Irfan S Awwas Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia

sumber: www.eramuslim.com

*****

2.  KHUTBAH IDUL ADHA “Teladan Nabi Ibrahim as
Jum’at, 26 Oktober 2012 M / 10 Dzulhijjah 1433 H
Di Halaman Masjid Al Uswah Komplek. BPPT, Jl. Teknologi VII no. 27,    Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat 11620
Oleh:  H. Ferry Nur S.Si, Ketua KISPA  (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina)
Website: www.kispa.org, Email: ferryn2006@yahoo.co.id, HP: 08557800950, pin BB: 21AC243F

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أََنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر

Allahu Akbar 3X Walillahilhamd.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Berbahagia.

Segala Puji bagi Allah, Tuhan Maha Kuasa, Pemilik alam semesta, yang telah menciptakan manusia dan makhluk lainnya. Tuhan Yang Maha Esa yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Shalawat dan salam semoga  tercurah selalu untuk  junjungan kita, pemimpin kita, penghulu segala nabi, nabi akhir zaman, idaman orang yang beriman, dia adalah nabi Muhammad saw, yang tidak ada lagi nabi setelahnya. Salam sejahtera juga kita sampaikan untuk  keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang tetap istiqamah di dalam islam dan iman.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamd.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah swt.

Hari ini saudara-saudara kita yang diberikan kemampuan, kesempatan dan dalam keadaan sehat wal’afiat, melaksanakan ritual ibadah haji. Jumlah mereka tidak sedikit, sekitar tiga sampai empat juta orang dari berbagai suku, bangsa dan negara, termasuk Indonesia.

Ada 2.262 orang jamaah haji dari Gaza, Palestina, dengan semangat perjuangan dan kegigihannya telah mendobrak blokade Israel menuju ketaatan kepada Allah, melaksanakan ibadah haji di tanah suci Mekah Al Mukarramah . Mereka berkumpul  menjadi satu, di tempat yang sama, Arafah namanya, dalam mengharap ridha dan ampunan  Allah Tuhan Yang Maha Pengampun
Bagi kaum muslimin yang tahun ini tidak berangkat menunaikan ibadah haji ke  tanah suci, di sunahkan untuk melaksanakan shalat Idul Adha secara berjamaah, mendengarkan khutbah dan dilanjutkan nanti dengan penyembelihan hewan qurban.

Bahkan sebelum pelaksanaan shalat Idul Adha, sehari sebelumnya, 9 Dzulhijah, ketika saudara-saudara kita sedang berkumpul di Arafah, melakukan wukuf untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berzikir, berdoa, bertaubat dan ibadah lainnya yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Maka sebagai ikatan iman dan ikatan ibadah antara kaum muslimin dimanapun mereka berada termasuk di Indonesia dengan mereka yang sedang wukuf di Arafah, Rasulullah saw memberikan motifasi kepada umatnya untuk berpuasa sunah Arafah.

“Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa selama dua tahun, yaitu tahun yang lalu dan tahun yang akan datang”. (HR. Jamaah, kecuali Bukhari dan Tirmidzi).

Beruntunglah mereka yang melaksanakan puasa sunah Arafah kemarin, 9 Dzulhijah, semoga Allah menerimanya. Amin Ya Rabbal ‘alamin.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamd.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Berbahagia.

Di dalam Al Qur’an kita akan menemukan penjelasan Allah swt tentang manusia yang telah mendapat rekomendasi untuk di teladani.
Mereka adalah nabi Ibrahim as dan nabi Muhammad saw ,sebagaimana firman Allah menjelaskan:

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya[*]: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.”

[*] nabi Ibrahim pernah memintakan ampunan bagi bapaknya yang musyrik kepada Allah : Ini tidak boleh ditiru, karena Allah tidak membenarkan orang mukmin memintakan ampunan untuk orang-orang kafir (lihat surat An Nisa ayat 48).

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا ﴿٤٨﴾

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS: An Nisa/ 4: 48).

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS: Al Mumtahanah/60: 6).

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS: Al Ahzab/33: 21)

Allahu Akbar 3X Walillahilhamd.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah swt.

Dalam khutbah kali ini, khotib akan menyampaikan keteladanan nabi Ibrahim as yang perlu kita ketahui untuk diambil sebagai pelajaran. Sehingga kita tidak salah mengambil teladan hidup, tidak salah mengambil idola dan panutan dalam miniti kehidupan yang fatamorgana ini. Kalau salah mengambil teladan, idola atau panutan hidup maka akan tersesat dan tergelincir kejurang kebinasaan di dunia dan akhirat.
Saat ini diakui atau tidak, sedang terjadi krisis keteladan, mulai dari dari rakyat sampai pejabat, orang desa sampai orang kota, anak maupun orang tua.  Susah mencari orang lurus aqidahnya, baik ibadahnya, bijaksana sikapnya, taat kepada Allah sikapnya, ikhlas dasar amalannya.

Ada bebarapa keteladan nabi Ibrahim yang patut kita contoh, diantaranya:
1. Keteladanan dalam aqidah.
Nabi Ibrahim as memiliki aqidah yang benar dan lurus, tidak bengkok mengikuti syahwat atau melengkung mengikuti nafsu. Tidak terjerumus kepada syirik, tidak menyembah bintang, bulan, matahari, pohon maupun berhala.

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif[*]. dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),” (QS: An Nahl / 16 : 120)

[*]  Hanif Maksudnya: seorang yang selalu berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya.

“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS: Al ‘Ankabut / 29 : 16).

Ayat di atas menegaskan keyakinan dan aqidah yang dimiliki nabi Ibrahim as, yaitu hanya menyembah kepada Allah saja, dan sikapnya tersebut diekspresikan dengan dakwah, mengajak kaummya untuk menyembah Allah dan bertaqwa kepada-Nya. Dan perlu diketahui juga bahwa nabi Ibrahim as bukan orang Yahudi, bukan orang Nasrani dan bukan pula orang musyrik, tetapi beliau adalah seorang muslim yang telah totalitas berserah diri kepada Allah.

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS: Ali Imran / 3 : 67)

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”. (131). Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (132). Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.(133). (QS: Al Baqarah / 2 : 131-133).

1. Keteladanan dalam taat kepada Allah.

Nabi Ibrahim as telah memberikan contoh dan teladan yang baik dalam ketaatan kepada Allah, dia melaksanakan perintahAllah dengan ikhlas, sepenuh hati dikerjakan, hanya mengharap ridha Allah.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.(102). tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).(103). dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,(104). Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.(105). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.(106). dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.(107). “(QS: As Shaaffat /37 : 102 – 107)

Dari ayat di atas, kita mendapat penjelasan bahwa Nabi Ibrahim as melaksanakan perintah Allah dengan baik, walaupun harus meyembelih anaknya sendiri.

Memang dalam kondisi semacam itu akan berat menerimanya, pilihan yang sulit, betapa tidak, sudah lama mengidam-idamkan anak, menunggu bertahun-tahun, bahkan berpuluh tahun, ketika sudah di dapat apa yang diharap, diperoleh apa yang diinginkan, seorang anak yang baik rupanya, sempurna akhlaknya, Ismail namanya, lantas ada perintah untuk menyembelih anak yang telah menjadi buah hati, penyejuk mata, sungguh berat ujian tersebut.

Tetapi, nabi Ibrahim as dapat melalui ujian yang berat tersebut, karena dia tahu tentang skala prioritas dalam hidup ini, yaitu mengabdi kepada Allah, mendahulukan perintah Allah dari yang lainnya.

Zaman sekarang, keteladanan nabi Ibrahim as sudah mulai tergerus dari kehidupan kaum muslimin, tidak sedikit terjadi kasus kriminal yang dijadilkan alasan adalah anak !, orang mencuri karena anak tidak makan, orang merampok karena untuk memenuhi kebutuhan anak, bahkan orang korupsi kerana sayang kepada anak, sehingga apapun dikerjakan tanpa mempedulikan lagi halal haram, perintah dan larangan Allah, pantas dan yang tidak pantas.
Pebuatan tercela, dosa dan kemungkaran terjadi karena ketaatan kepada Allah tidak totalitas !

2. Keteladanan dalam membina keluarga.

Nabi Ibrahim telah memberikan keteladanan yang baik terkait dengan kehidupan berumah tangga, dalam membina keluarga sakinah mawaddah warahmah. Dia mampu mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak yang shaleh, berbakti kepada kedua orang tua dan taat kepada Allah.

Ismail dan Ishaq adalah anak nabi Ibrahim as, mereka adalah nabi. Cucu nabi Ibrahim juga ada yang menjadi nabi, namanya Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim, cicitnya juga ada yang menjadi nabi, namanya Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.

Bahkan keturunan nabi Ibrahim as yang bernama Muhammad bin Abudullah juga seorang nabi dan rasulullah, bahkan menjadi nabi dan rasul yang terakhir, tidak ada lagi nanti dan rasul sesudahnya.

Sehingga nabi Ibrahim mendapat gelar Abul Anbiya’ (bapak para nabi).

Nabi Ibrahim senantiasa mengedepankan dialog dan musyawarah dalam mengambil keputusan, tegas dalam kebenaran, menghargai pendapat orang lain walaupun itu dari anak kecil.

Dalam kisah pada ayat di atas (QS: As Shaaffat /37 : 102 – 107), Nabi Ibrahim as, walaupun sudah tua, sudah berumur, kaya pengalaman, bak pepatah mengatakan sudah banyak makan asam dan garam, akan tetapi tidak sombong, tidak angkuh, tidak otoriter, tidak ingin menang sendiri, tidak memaksakan kehendak. Beliau masih minta pendapat orang lain, walaupun pendapat itu berasal dari seorang anak. Pendapat anak tersebut dia hargai bahkan dia laksanakan dengan sepenuh hati.

Begitu pula anaknya, bukanlah tipe anak yang cengeng, tidak penakut, berani menyampaikan pendapat, dan taat kepada Tuhan Yang Maha Agung, Allah swt.

Ketika nabi Ibrahim dan anaknya telah berserah diri dan sabar atas perintah Allah, maka Allah tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Peristiwa ini kemudian dilanjutkan oleh generasi sesudahnya hingga generasi sekarang dengan prosesi penyembelihan hewan qurban, tanggal 10 Dzulhijjah dan dilanjutkan pada hari tasyrik.

Nabi Muhammad saw juga melakukan penyembelihan hewan qurban sebagai wujud syukur dan mendekatkan diri kepada Allah swt, bahkan dalam pelaksanaan haji Wada’, Rasulullah saw dengan tangannya yang mulia menyembelih sebanyak 63 ekor binatang sembelihan, beliau kemudian menyerahkan kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu  untuk menyembelih sisanya sampai genap 100 sembelihan.

Dari Aisyah Radhiyallahu’anha, Nabi saw bersabda:
“Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai Allah dari Bani Adam ketika hari Raya Idul Adha selain menyembelih qurban …”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim).

Anas Radhiyallahu’anhu bekata, Rasulullah saw bersabda:
“Pada setiap bulu yang menempel di kulitnya terdapat kebajikan.” (HR. Ahmad bin Hanbal dalam musnadnya)

Beruntunglah mereka yang berqurban, apalagi qurbannya diserahkan kepada mereka yang sangat membutuhkan, seperti fakir, miskin, para janda, anak yatim yang berada di kamp pengungsian di Gaza Palestina , Suriah dan Rohingya. Semoga Allah menolong dan memberikan kesabaran kepada mereka semua yang sedang menderita.

Alhamdulillah, untuk tahun ini KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina) telah memfasilitasi kaum muslimin Indonesia untuk menyalurkan qurbannya kepada saudara-saudara mereka di Gaza, Palestina. Walaupun harus mengeluarkan dana qurban sebesar Rp. 2.5000.000;.

Ada sekitar 30 orang yang berqurban dan ikut berpartisipasi mensukseskan program “Qurban KISPA 1433 H” di Gaza. Semoga Allah menerima qurban kita semua dan mengokohkan ukhuwah kita.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamd.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah swt.

Karena keteladanan, jasa dan kebaikan nabi Ibrahim as kepada umat manusia, maka kaum muslimin diserukan untuk mengingat dan mengenangnya dengan cara bershalawat kepadanya.

Shalawat terbaik adalah shalawat yang telah diajarkan sendiri oleh Rasulullah saw  kepada  para sahabatnya.

Terdapat dalam shahihain, dari Ka’b bin ‘Ujrah ra, dia berkata: Nabi saw keluar menemui kami, lalu kami berkata: “Ya Rasulullah, kami telah mengetahui bagaimana kami memberi salam kepadamu, maka bagaimana kami bershalawat atasmu?”
Beliau menjawab : “Ucapkanlah:nAllahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shallaita ‘alaa Ibrahiim wa ‘alaa aali ibrahiim, innaka hamiidun majiid. Allahumma baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarakta ‘alaa Ibrahiim wa ‘alaa aali Ibrahiim, innaka hamiidun majiid.

Artinya:  Ya Allah sampaikanlah shalawat atas Muhammad dan keluarganya
sebagaimana Engkau telah sampaikan shalawat atas Ibrahim dan keluarga-Nya. Sesungguhnya Engkau Dzat Maha Terpuji lagi Maha Agung.  Ya Allah, berikan keberkahan kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah berkahi Ibrahim dan keluarganya. sesungguhnya Engkau Dzat Maha Terpuji lagi Maha Agung.”.(HR. Bukhari dan Muslim).

Akhirnya marilah kita tutup khutbah Idul Adha pagi ini dengan berdoa kepada Allah swt:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

“Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a”.

اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.

“Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir”.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَ نَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selamakami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami”.

اَللَّهُمَّ اِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمِ لاَ يَنْفَعُ  وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَسْبَعُ وَمِنْ دُعَاءِ لاَيُسْمَعُ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tak khusyu dan jiwa yang tak pernah merasa puas serta dari do’a yang tak didengar (Ahmad, Muslim, Nasa’I).”

“Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS: Al Furqan / 25 : 74).

“Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (QS: Ibrahim / 14 : 40 -41).

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا

“Ya Allah, jadikanlah mereka (para jamaah haji) haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, perdagangan yang tidak akan mengalami kerugian”

اَللَّهُمَّ احْفَظْ اَلْمَسْجِدَ اْلأَقْصَى مِنْ مُؤَامَرَاتِ اْلمُحْتَلِّيْنَ اْلغَاصِبِيْنَ وَحَرِّرْهُ
يَا رَبَّناَ مِنْ رِجْسِهمْ
وَ رُدَّ كَيْدَهُمْ إِلىَ نُحُوْرِهِمْ وَقِناَ شُرُوْرَهُمْ  وَارْزُقْناَ صَلاَةً فِيْهِ قَبْلَ اْلمَمَاتِ

Ya Allah lindungilah masjid al Aqsha dari konspirasi jahat para penjajah perampok…Ya Allah kembalikanlah tipu daya mereka ke leher-leher  mereka sendiri, dan jauhkanlah kami dari kejahatan-kejahatan mereka…‎Anugrahkanlah kami untuk shalat di masjid al Aqsha sebelum kami mati…

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

*****

3. Khutbah Idul Adha

بسم الله الرحمن الرحيم
PENTINGNYA “WUKUF” DI TENGAH BADAI FITNAH

Muhammad Ihsan Tandjung Lapangan Masjid Al-Manar – Taman Duta – Cimanggis Depok 10 Dzulhijjah 1433 H / 26 Oktober 2012

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
الله أكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و أصيلا
لآإله إلا الله و لا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون
لآإله إلا الله وحده صدق وعده و نصر عبده و أعز جنده و هزم الأحزاب وحده
لآإله إلا الله   الله أكبر  الله أكبر و لله الحمد
الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَـذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللّهُ
الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ  بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ
لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أشهد أن لآإله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
اللهم صلي على محمد و على آله و أصحابه و أنصاره و جنوده
و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
فقال الله تعالى في كتابه الكريم:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul-Adha rahimakumullah

Marilah kita bersyukur kepada Allah سبحانه و تعالى  semata. Allah telah melimpahkan kepada kita sedemikian banyak ni’mat, baik lahir maupun batin. Marilah kita bersyukur kepada-Nya atas ni’mat paling istimewa yang telah kita terima selama ini, padahal tidak semua manusia memperolehnya. Yaitu ni’mat iman dan islam, yang dengannya hidup kita menjadi terang, lurus, benar, terarah, berma’na dan selamat di dunia maupun di akhirat.

Selanjutnya marilah kita sampaikan sholawat dan salam-sejahtera  kepada pemimpin kita bersama, teladan kita bersama… imamul muttaqin pemimpin orang-orang bertaqwa, da’iyyan ila Allah penyeru ke jalan Allah serta qaa-idil mujahidin panglima para mujahid yang sebenar-benarnya nabiyullah Muhammad صلى الله عليه و سلم , keluarganya, para shohabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Dan kita berdo’a kepada Allah swt, semoga kita yang hadir di tempat yang baik ini dipandang Allah swt layak dihimpun bersama mereka dalam kafilah panjang penuh berkah. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.

Sesudah itu, marilah kita bersyukur pula kepada Allahu ta’ala atas limpahan ni’mat sehat-wal’aafiat. Ni’mat yang memudahkan dan melancarkan segenap urusan hidup kita di dunia. Semoga kesehatan kita kian hari kian mendekatkan diri dengan Allahu ta’ala. Dan semoga saudara-saudara kita yang sedang diuji Allah melalui aneka jenis penyakit sanggup bersabar menghadapi penderitaannya…bersama keluarga yang mengurusnya, sehingga kesabaran itu mengubah penyakit mereka menjadi penghapus dosa dan kesalahan. Amien, amien ya rabbal ‘aalamien.

Tak lupa khotib mengajak jamaah untuk mendoakan saudara-saudara kita kaum muslimin, mukminin, muwahhidiin dan mujahidin fii sabilillah di berbagai belahan bumi yang sedang didera berbagai kesulitan. Mereka yang sibuk membebaskan diri dari kezaliman fihak para thaghut (penguasa zalim) musuh-musuh Allah yang memerangi, memboikot, memfitnah hingga memenjarakan mereka. Ya Allah, berilah kesabaran kepada mereka dalam menghadapi berbagai ujian hidup ini.  Ya Allah, berilah kesabaran kepada anak-isteri para mujahidin dan du’at mukhlishin dimanapun mereka berada. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul-Adha rahimakumullah

Kemarin tanggal 9 Dzulhijjah jamaah haji dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Arafah melakukan wukuf. Wukuf merupakan puncak penyelenggaraan ibadah haji. Sah-tidaknya haji seseorang sangat ditentukan oleh hadir-tidaknya ia wukuf di Arafah. Sebab wukuf merupakan inti dari segenap rangkaian ibadah haji. Rasulullah Muhammad صلى الله عليه و سلم menyatakan:

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Inti Haji adalah wukuf di Arafah” (Hadits Shahih Imam An-Nasai)

Walaupun seorang jama’ah haji melakukan kegiatan thawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i bolak-balik antara Shofa dan Marwah, melontar batu di Jamarat, namun jika tidak ikut-serta wukuf di Arafah, maka orang itu tidak dianggap melakukan haji. Artinya hajinya tidak sah. Sebab inti daripada prosesi ibadah haji ialah melaksanakan wukuf di Arafah.

Uniknya, justeru kegiatan wukuf merupakan kegiatan yang paling tidak menuntut kegiatan jasmani. Tidak seperti thawaf atau sa’i atau melontar jumrah. Semua kegiatan tersebut menuntut keterlibatan jasmani yang seringkali bahkan mengandung resiko. Tatkala sedang thawaf jamaah haji sangat mungkin berdesak-desakan selama mengelilingi Ka’bah. Ketika sedang sa’i sangat mungkin seseorang mengalami keletihan. Bahkan saat di Jamarat seseorang sangat mungkin malah terkena lemparan batu jamaah haji lainnya.

Sedangkan kegiatan wukuf merupakan kegiatan dimana seorang hamba Allah dituntut untuk berdiam diri, tidak melakukan kegiatan jasmani apapun. Yang menjadi tuntutan ialah bersibuk tenggelam di dalam dzikrullah (mengingat Allah سبحانه و تعالى ) dan tafakkur (merenung). Dan Rasulullah صلى الله عليه و سلم menegaskan bahwa inilah inti ibadah haji. Inti sekaligus puncak ibadah haji ialah mengingat Allah سبحانه و تعالى dan merenungi perjalanan hidup. Inti haji bukanlah pada aktifitas thawaf atau sa’i atau melontar jumrah. Seolah hal ini mengajarkan kepada kita bahwa bukanlah bersibuk-sibuk beraktifitas dalam kehidupan sehari-hari itu yang penting dan utama, tetapi yang lebih penting dan utama ialah memastikan bahwa berbagai kesibukan yang dilakukan berdasarkan hasil perenungan mendalam dan tidak terputusnya jalinan hubungan dengan Dzat Yang telah memberikan kita izin untuk beraktifitas.

Itulah sebabnya mengapa di dalam Al-Qur’an kata “amal sholeh” tidak pernah disebutkan sendirian tanpa dibarengi bahkan didahului dengan “beriman”. Artinya, memastikan bahwa kita telah benar-benar beriman jauh lebih penting dan utama daripada sekedar memperbanyak amal sholeh. Alangkah naifnya bila ada seorang yang mengaku muslim lalu ia tidak pernah merenungkan apa yang melandasi berbagai amalnya, yang penting menurutnya adalah banyaknya amal. Lalu dia berusaha mengisi waktunya dengan sebanyak mungkin amal. Lebih jauh lagi dia memandang remeh orang lain yang dinilainya tidak banyak beramal. Sehingga dengan mudah dia menstempel  orang tersebut sebagai orang-orang yang hanya NATO (no action, talk only). Padahal Allah سبحانه و تعالى memperingatkan kita bahwa ada sementara manusia di dunia ini yang mengira bahwa dirinya sudah banyak berbuat kebaikan namun ternyata di dalam pandangan Allah سبحانه و تعالى justeru mereka itulah orang-orang yang paling merugi.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالاالَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ
وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
ذَلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia (Allah). Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahanam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.” (QS Al-Kahfi 103-106)

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul-Adha rahimakumullah

Melalui kegiatan wukuf, setiap muslim disuruh untuk “stop and think” alias berhenti sejenak untuk merenung. Jangan biarkan diri tenggelam dalam berbagai kesibukan apalagi rutinitas sehari-hari sehingga apa-apa yang dikerjakan menjadi bersifat mekanistik belaka, kehilangan ruh bahkan tersesat arah dan tujuannya. Dan urusan wukuf ini menjadi lebih penting lagi bila dikaitkan dengan realitas dunia di zaman penuh fitnah seperti sekarang. Dan fitnah atau ujian zaman yang banyak mengancam kaum muslimin dewasa ini ialah realitas bahwa dunia sedang Allah سبحانه و تعالى izinkan dipimpin oleh kaum yang tidak beriman alias kaum kafir, yaitu kaum yahudi dan nasrani. Kepemimpinan kaum kafir tersebut telah melahirkan sikap taqlid buta pada sebagian besar orang yang mengaku muslim sebagaimana disebutkan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم lima belas abad yang lalu:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ
لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Rasulullah صلى الله عليه و سلم  bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun, maka kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum yahudi dan nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?”
(HR Muslim – shahih)

Dewasa ini dunia sedang dipimpin oleh masyarakat barat Amerika dan Eropa (the western civilization) yang notabene terdiri dari kaum yahudi dan nasrani (the judeo-christian civilization). Kepemimpinan mereka telah menyebabkan begitu banyak muslim yang mengekor kepada millah (cara hidup) mereka. Dan Allah سبحانه و تعالى jelas-jelas memperingatkan kita agar mewaspadai sikap kaum yahudi-nasrani yang tidak akan pernah senang kepada kaum muslimin sebelum mengikuti cara hidup mereka:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ
إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ
مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah (cara hidup) mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu (kaum muslimin) mengikuti kemauan mereka (kaum yahudi dan nasrani) setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.(QS Al-Baqarah 120)

Kaum muslimin sepatutnya hanya mengikuti petunjuk Allah alias dinul-Islam dalam menata segenap aspek kehidupan mereka. Tetapi kenyataannya, mereka lebih percaya kepada petunjuk kaum yahudi dan nasrani. Alhasil, kita saat ini harus menghadapi badai fitnah yang meliputi segenap aspek kehidupan.  Fitnah ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, militer, pendidikan dan lain sebagainya. Rasulullah صلى الله عليه و سلم memperingatkan bahwa akan tiba suatu era penuh fitnah dimana dunia menjadi laksana sepotong malam yang gelap-gulita.

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ
يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا
وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: “Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seseorang masih dalam keadaan mukmin, lalu menjadi kafir di sore harinya. Di sore hari seseorang masih dalam keadaan mukmin, lalu menjadi kafir di pagi harinya. Dia menjual dien-nya (agamanya) demi memperoleh barang kenikmatan dunia.” (HR Muslim – 169) Shahih

Hadits di atas menggambarkan kondisi yang sangat mirip dengan dunia modern dewasa ini. Dan Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم menggambarkan bahwa jika era badai fitnah itu sudah tiba, maka gejala yang muncul bukanlah sekedar terjerumusnya muslim dalam dosa-dosa kecil. Bahkan tidak juga dosa-dosa yang besar. Sebab betapapun besarnya dosa seseorang, bilamana iman tetap ada, maka ia masih berpeluang mendapat ampunan Allah سبحانه و تعالى . Gejala yang muncul adalah riddah (kemurtadan). Sehingga Nabi صلى الله عليه و سلم tidak mengatakan: “Di pagi hari seseorang  berbuat kebaikan, lalu di sore harinya ia berbuat kejahatan.” Tapi kalimat beliau ialah: “Di pagi hari seseorang masih dalam keadaan mukmin, lalu menjadi kafir di sore harinya. Di sore hari seseorang masih dalam keadaan mukmin, lalu menjadi kafir di pagi harinya.” Inilah yang disebut gejala riddah. Ini merupakan puncak dosa, yaitu batalnya keimanan seseorang. Bila iman sudah batal, maka segenap amal yang dilakukan menjadi tidak bernilai di mata Allah سبحانه و تعالى . Wa na’udzubillah min dzaalika.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul-Adha rahimakumullah

Lalu apakah yang mesti dilakukan jamaah haji saat wukuf di Arafah? Untuk itu marilah kita ikuti arahan Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم berikut ini:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari ‘Arafah dan sebaik-baik apa yang aku dan para Nabi sebelumku katakan adalah “LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKALAHU LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR (Tiada Ilah melainkan Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya lah segala kerajaan dan pujian dan Dialah Yang Maha berkuasa atas segala sesuatu).” (TIRMIDZI – 3509) Hasan

Ternyata Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم mengarahkan jamaah haji untuk “stop and think” dengan cara mengulang-ulang komitmen keimanannya. Membaca kalimat tauhid. Dengan harapan tentunya bukan sebatas ucapan verbal, tetapi menjadi landasan bagi segenap gerak-gerik dan aspek kehidupan bagi dirinya, keluarganya kemudian ummat Islam secara umum. Dan menolak segala bentuk kemusyrikan. Jangan hendaknya menyekutukan Allah سبحانه و تعالى baik dalam hal berdoa, niyat, kehendak dan tujuan. Maupun syirik ketaatan serta syirik mahabbah (kecintaan).

Dzikrullah dan tafakkur saat wukuf hendaknya mencakup tekad untuk bertauhid dalam hal mengembalikan hak atas segenap kerajaan/ pemerintahan kepada Pemilik sejatinya, yaitu Allah سبحانه و تعالى . Sebab Allah سبحانه و تعالى merupakan Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Hendaknya setiap mukmin menyadari dan meyakini bahwa kedaulatan hanyalah milik Allah subhaanahu wa ta’aala semata dan tidak pantas diserahkan kepada siapapun atau apapun selain Allah subhaanahu wa ta’aala, termasuk kepada manusia atau rakyat banyak. Dan itu bermakna bahwa ketundukkan kita hendaknya hanya dan hanya kepada hukum Allah سبحانه و تعالى bukan kepada hukum jahiliyah bikinan manusia yang pada hakikatnya sangat zalim dan sangat bodoh.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah 50)

DOA

رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Wahai Rabb kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. (QS 18:10)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيم ٌ

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (QS 59:10)

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS 3:8)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 25:74)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS 3:147)

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS 2:286)

رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ ءَامِنُوا
بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ
رَبَّنَا وَءَاتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Ya Rabb kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Rabb -mu”, maka kamipun beriman. Ya Rabb kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS 3:192-194)

 


Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>